by

Cara Nelayan Mandar Memeluk ‘Muhammad’ di Tengah Badai

(Ilustrasi Lukisan Perahu Sandeq). Foto Net : Apiss Art Studia

Mamuju, Mediaekspres.com Para nelayan Mandar disepanjang pesisir laut Provinsi Sulawesi Barat, memilik ritual khusus, ritual laut yang dipegang teguh turun temurun masyarakat nelayan di Mandar, atau biasa juga disebutkan sedekah laut hingga saat ini. Namun ritual warisan nenek moyang orang Mandar ini, juga ada yang berpendapat bahwa itu adalah prilaku musryik. Tentunya, golongan orang yang berpendapat dengan mudah menuduh kegiatan tersebut musryik, syirik adalah golongan Wahaby dan semacamnya.

Padahal, ritual sedekah laut adalah doa ungkapan syukur atas karuniah yang melimpah yang diberikan Tuhan kepada hambanya.

Selain itu juga, merupakan bentuk kepercayaan orang tua dulu, terhadap penguasa alam semesta, Allah SWT agar dihindarkan dari hal-hal yang membahayakan ketika nelayan hendak melaut.

Lalu bagai mana cara nelayan Mandar agar dapat selamat dari musibah di tengah lautan,?

Cara inilah kemudian, para orang tua menanamkan prilaku saling menghormati sesama mahluk ciptaan, baik itu yang ada di daratan, maupun mahkluk hidup yang ada dilautan. Hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan manusia dengan alam.

Nelayan Mandar yang beragama islam, ummat Nabi Muhammad SAW tentunya akan mempertahankan nilai tradisi dan budaya yang lama yang masih baik dan menerima nilai baru yang lebih baik.

Seperti yang dicontohkan Habib Ahmad Fadl Al-Mahdaly pada tauziahnya Maulid Nabi Muhammad SAW beberapa waktu lalu.

Habib Fadl Al Mahdaly (kiri) saat mendampingi Kiai Ahmad Muaffieq (Gus Muaffieq) (kanan) cermah di Polewali Mandar beberapa waktu lalu.

Ia menceritakan gambaran bahwa nelayan Mandar memilik keyakinan ketika membuat perahu, ujung depan perahu adalah tempatnya Nabi Sulaiman, karena Nabi Sulaiman AS, adalah Nabi yang kaya. Dan olehnya itu, hasil tangkapan nelayan akan disimpan di depan perahu dan nabi Sulaiman yang akan menjaganya.

Nabi Ibrahim AS, dipusatkan di tengah perahu, karena nabi ibrahim pertama membangun rumah. Jadi ditengah perahu itu, bagaikan rumah nelayan yang ditempati istirahat ketika lelah, makan ketika lapar dan sembahyang.

Sedangkan Nabi Nuh AS, itu dipusatkan dibelakang perahu, sebagai pemilik perahu yang akan membawa perahu berlayar mengarungi samudra.

“Sedangkan Rasulullah Muhammad SAW Nisingkarruang Dzio di Tumba Layarna (Terpusat di tiang layar), saya tanyakan kepada tukang perahu kenapa Rasulullah ditempatkan di tiang layar,? dijawablah, Apa Sangga Ia Tia Mie Kambe Sitembus Dzai Ri Puang AllahTa’ala (Karena hanya Rasulullah yang dapat tembus di Arsy berjumpa dengan Allah SWT,” kata Habib Fadl Al-Mahdaly pada tauziahnya dalam bahasa Mandar, di hadapan ratusan jemaah Masyarakat Kalukku, Kabupaten Mamuju, beberapa waktu lalu.

Video: Cara Nelayan Mandar Memeluk ‘Muhammad’ di Tengah Bandai

 

Lanjut imam Masjid Suhada Polewali Mandar ini, bahwa orang tua dulu itu ketika melaut, mendapat musibah ditengah laut, badai ombak yang besar, hanya satu tempat pelarian dan bersandar, apa itu?

“Akan Memeluk itu tiang layarnya sambil berkata. Indamma Cilaka Puang Apa Uraetti I Muhamma’. (Saya tak akan terkena musibah Ya Allah karena saya telah memeluk Muhammad),” jelas Habib Fadl disambut riuh tepuk tangan masyarakat yang fokus mendengarkan tauziahnya.

Inilah kenapa orang tua dulu susah untuk ditimpa musibah, karena orang tua dulu mengerti dan paham ajaran Rasulullah dan tak pernah pisah dengan Nabi Muhammad SAW.

Apa yang disampaikan Habib Fadl Al-Mahdaly ini adalah bentuk kearifan lokal, ilmu keyakian orang tua yang tak akan di dapatkan dibangku sekolah, maupun di bangku perkuliahan, oleh karena itu belajar ilmu Tasawuf adalah cara mengenali hakikat sesungguhnya dalam berprilaku seperti keraifan lokal yang orang tua dulu wariskan hingga saat ini. (San)

Video: Kisah Gurunya Imam Lapeo Mencintai Tanah Mandar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *