oleh

GP Ansor Mamuju Peringati Haul Gus Dur di Tambi

-Mamuju-106 views

 

Foto suasana Haul Gus Dur di Lingkungan Tambi, Kelurahan Mamunyu.

Mamuju – Mediaekspres.com – Ratusan jemaah menghadiri Haul ke-9 wafatnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di halaman Sekolah Dasar (SD) Tambi, Kelurahan Mamunyu, Minggu malam (30/12/18).

Acara Haul Gus Dur yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Mamuju tersebut bertema “Menjaga Ukhuwa Mengokohkan Spirit Ke- indonesiaan.”

Turut dihadiri Anggota DPD RI Perwakilan Sulbar, K.H. Muh. Syibli Sahabuddin, Wakil Bupati Mamuju, Irwan SP Pababari, Mantan Sekertaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Ismail Sainuddin, Pengurus Pusat GP Ansor, Ma’sud Saleh, Kasatkorwil Banser Sulbar, Ansar, Ketua GP Ansor Mamuju, Zahril, Kasatkorcab Banser Mamuju, Ikhsan Hidayah, dan pemerintah setempat.

Dalam sambutannya, Ketua GP Ansor Mamuju, Zahril mengingatkan seorang tokoh bangsa (Gus Dur) yang pernah mengajarkan tentang pentingnya kemanusiaan.

“Malam ini kita kembali mengenang seorang tokoh bangsa yang hampir separuh hidupnya di gunakan hanya untuk mengabdi kepada kemanusiaan,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan untuk senantiasa mengedepankan kemanusiaan daripada politik yang dapat memecah dan merusak hubungan kita dengan sesama manusia. Sebagaimana yang diajarkan oleh almarhum Gus Dur bahwa kemanusiaan jauh lebih penting dari pada politik.

“Kadang-Kadang karena politik kita tidak memandang manusia, dan gara-gara politik terkadang kita tidak memandang siapa saja untuk merebut kekuasaan. Akan tetapi Gus Dur mengajarkan, tidak ada sesuatu kepentingan kekuasaan yang patut dipertahankan mati-matian.”

“Kami ini tidak memiliki modal kecuali semangat untuk meneruskan cita-cita Gusdur,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Mamuju, Irwan SP Pababari menyampaikan, dirinya secara langsung tidak terlalu mengenal Gus Dur. Namun menurut pengetahuannya banyak rekan jejak seorang Gus Dur yang harus dijadikan pedoman dalam berbangsa dan bernegara. Termasuk bagaimana seorang Gus Dur memandang manusia dalam bernegara.

“Dengan kegiatan seperti ini kita bisa belajar sekaligus mendapat pencerahan bagi diri sendiri, keluarga maupun lingkungan yang bisa kita terapkan,” ungkapnya.

Seperti yang disampaikan Pengurus Pusat (PP) GP Ansor, Ma’sud Saleh dalam sambutannya, bahwa manusia boleh berbeda agama dan suku . Akan tetapi jika sudah menyangkut kebutuhan bersama maka kita harus bersatu.

“Beragama Islam ke mesjid, Nasrani ke Gereja, Hindu ke pura, Budha ke kuil. Akan tetapi jika jembatan rusak maka kita bersama-sama untuk memperbaiki,” pungkasnya. (Ir) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *