oleh

Jangan Kafirkan Dan Jangan Menjastis Kami Masuk Neraka

Foto : Kiri, Dr. Hasyim Lc. M.Ag (Narasumber Dialog di Cafe Goodwill, Majene)

Majene-mediaekspres.com. Penomena kafir mengkafirkan dan tudingan masuk neraka sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita, baik didunia maya maupun dunia nyata. Sehingga hal itu terkadang menjadi perbincangan yang serius di forum forum resmi maupun ditataran lingkup masyarakat pada umumnya.

Kafir mengkafirkan, dan tudingan masuk neraka antara sesama kita ini, telah disinggung dan menjadi perbincangan juga dalam diskusi publik, yang digelar oleh Yayasan Peduli Alam Indonesia di Caffee Goodwill selasa malam, Selasa kemarin (26/11/19). yang mengangkat tema pelibatan pemuda dalam pencegahan radikalisme yang merupakan akar terorisme.

Kepala bagian Haji dan Umroh Kemenag Majene, Dr. H. Hasyim, Lc., M.Ag. yang menjadi salah satu pemateri dalam diskusi tersebut sempat menyinggung soal kafir mengkafirkan dan mudahnya kalimat masuk neraka terlontar kepada sesama kita manusia.

Ia menyampaikan contoh salah satu faktor terjadinya kafir mengkafirkan, dikalangan ummat islam, serta perdebatan masalah cadar, celana cingkrang dan jenggot. Menurutnya, adanya sekelompok orang ini yang apabila pemahaman mereka berbeda dengan yang lainnya maka semua akan disalahkan.

“Ini yang jadi masalah sekarang, ada sekelompok orang ketika dia melihat orang yang tidak bercadar, tidak celana cingkrang dan berjenggot maka dia akan mengatakan salah dan tidak akan masuk surga, seolah-olah cuma dia yang mau masuk surga”. ungkapnya.

Sedangkan menurut Dr. H. Hasyim, Lc., M.Ag dalam agama sudah menyampaikan bahwa aurat itu bisa terlihat muka dan tangan, artinya apa marilah kita saling menghargai, kita hargai saudara kami yang berjenggot dan bercadar tapi hargai juga kami yang tidak celana cingkrang dan berjenggot dan jangan selalu mengkafirkan dan menjastis kami akan masuk neraka apabila berbeda pendapat dengan itu.

Itu hal hal yang furu’i dan bukan prinsipil yang bisa kita berbeda pendapat disana. Yang jadi masalah sekarang adalah kadang hal hal yang furu’i yang tidak prinsipil, kita bisa beda dan berdebat disana tapi bukanlah alasan bagi kita, untuk saling mengkafirkan sesama ummat beragama.

“Jadi dalam beragama bedakan mana hal-hal yang furu’i dan mana yang prinsipil, coba lihat mashab ulama kita ada empat mashab. Ada hal dalam beragama yang bisa kita berbeda beda disana dan ada juga yang kita harus sama semua”. tutup Dr. H. Hasyim, Lc., M.Ag. (Jumain)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *