oleh

Jejak Gusdur Siarah Dimakam Para Wali Di Sulawesi

-Nasional, Opini-303 views
Sumber, Hariansulsel.Com.

Mediaekspres.com, Sejak terpilih sebagai Ketua Umum PBNU selama 15 tahun, Gus Dur banyak mengunjungi daerah “blusukan”, termasuk di Wilayah Sulsel. Pada akhir tahun 1985, Gus Dur diundang berceramah oleh Rektor IKIP Makassar, Gubernur Prof. Dr. H. A. Amiruddin.

Beliau berangkat ke IKIP dan dijamu sarapan pagi. Di meja makan, sambil menunggu penjemput dari IKIP, terjadi diskusi antara Gus Dur dengan Gubernur H. A. Amiruddin dalam berbagai hal dimasa depan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Setelah penjemput dari IKIP datang, Gubernur mengantar Gus Dur ke bawah dijemput oleh Wagub HZB. Palaguna. Gubernur A. Ahmad Amiruddin meminta HZB. Palaguna mendampingi Gus Dur di IKIP, sambil berkata “Dampingi, dia orang pintar”.

Diatas mobil dalam perjalanan menuju IKIP, Gus Dur bertanya “ Tema apa yang akan saya bawakan dalam ceramaah nanti ?”, tanya Gus Dur’ “Transformasi sosial menuju masa depan Indonesia”, jawab saya.

Sampai di IKIP, Gus Dur dijemput oleh Rektor IKIP Prof. Dr. HP. Parawangsah dirumah jabatan. Setelah minum teh, Gus Dur diantar ke gedung Serba Guna IKIP, disambut oleh Civitas Akademika IKIP dan ratusan mahasiswa yang memenuhi aula gedung Serba Guna. Setelah pidato penyambutan Rektor IKIP, Gus Dur dipersilakan ke mimbar.

Pada awal ceramahnya, mahasiswa menyambut dengan suara “Uuuuuuh”, tetapi pada pertengahan ceramahnya, hadirin mulai diam dan tenang. Menjelang akhir ceramahnya, hampir setiap kalimatnya disambut dengan tepuk tangan yang meriah, dan menutup ceramahnya disambut dengan tepuk tangan yang panjang sambil hadirin berdiri mengantarkan Gus Dur meninggalkan tempat upacara.

Gusdur Ziarah Makam di Wajo

Akhir Januari 1989 pukul 08.00 pagi, menaiki mobil mini bus DPRD Sulsel, kami berangkat ke Wajo untuk berziarah ke makam Sayyid Jamaluddin al Akbari al Husaini yang wafat pada tahun 1310 dimakamkan berdampingan dengan Raja Tosora Lamaddusila di Tosora (situs purbakala),  Sayyid Jamaluddin adalah nenek para wali songo di Jawa.

Menurut Gus Dur, ia mendapat pesan dari neneknya Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, supaya menziarahi 27 makam  Wali  di Indonesia.

Sekitar pukul 11.00 kami tiba disuatu desa sekitar 4 Km sebelum sampai ke lokasi makam, jembatan desa terputus yang tidak bisa dilalui kendaraan. Gus Dur mengatakan “rupanya Almarhum belum berkenan diziarahi”.

Gus Dur bercerita bahwa juga pernah ada makam seorang Wali di Semarang, 5 kali baru bisa tembus mencapai makam wali tersebut. Akhirnya, Gus Dur meminta kepada yang hadir untuk mendoakan di sini saja sambil menunjuk jembatan yang putus. Kami yang mengantar Gus Dur, antara lain Sayyid Abu Bakar Alatas, Idris Nashir, Muhamad Abduh, Pengurus Cabang NU Wajo berkumpul ditengah persawaahan duduk melingkar sambil berdoa dan mengirimkan bacaan Al Fatihah, Doa dipimpin oleh Sayyid Abu Bakar Alatas. Gus Dur berjanji akan datang lagi secara incognito (tidak resmi).

Belakangan saya ketahui telah datang  secara diam-diam dan berdua dengan Habib Abubakar Alatas, Gus Dur telah menziarahi beberapa makam wali di Sulsel seperti makam Syech Yusuf al Khalawatiyah al Makassari di Gowa, Makam Syekh Jamaluddin al Akbari al Husaini di Tosora Kabupaten Wajo, makam Syekh Datok Ri Bandang dan Makam Pangerang Diponegoro di Makassar, makam Tuan Bojodi Kajuara Bone, makam Kareng Lolo Bayo Sanrabone Takalar.

Pada suatu waktu saya menemui Gus Dur di kantor PBNU jalan Kramat Raya menyampaikan niat saya untuk menyelenggarakan Haul dan tahlilan untuk almarhum Sayyid Jamaluddin Al Akbari al Huseini dan Syech Yusuf Al Halwati di Gowa. Gus Dur mendukung dan bersedia mencarikan sponsor. Niat untuk mengadakan Haul dan tahlilan ini kemudian saya konsultasikan pada M.Parawansyah, Sekretaris Prop.Sulsel di Kantor Gubernur.

Dari almarhum KHS. Jamaluddin Puang Ramma, saya mendapat informasi bahwa 42 orang ulama dan kiai dari Jawa Timur setelah memperoleh informasi dari Gus Dur,  dengan macharter pesawat terbang Fokker 28 mereka ke Makassar menginap di Syahid Hotel datang memui beliau di jalan Baji Bicara 7 Makassar. Mereka semua mengaku sebagai keturunan Sayyid Jamaluddin al Akbari al Huseini nenek para Wali Songo di Jawa. Mereka bermaksud menziarahi makam beliau di Tosora. Puang Ramma tidak mengetahui apakah mereka ke Tosora atau tidak. (AMI)

Baca juga, Pusaka Warisan Leluhur Dari Kalumpang

Baca juga, Kapak Batu Peninggalan Purba Dari Kalumpang

Penulis: Drs. KH. Abdurrahman atau dikenal dengan nama Abdurrahman ‘Bola Dunia”, disebut Abdurrahman Bola Dunia karena beliau memiliki rumah dengan pagar Bola Dunia sebagaimana Lambang Nahdlatul Ulama. Beliau adalah Ketua PWNU Sulsel 1986 – 1990 dan 1990 – 1995.

Sumber; Hariansulsel.ComJejak Gusdur Di Sulawesi Selatan”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *