MAJENE, MEDIAEKSPRES.COM — Peristiwa penggambaran Ilham Laode di Kabupaten Majene memasuki babak baru. Dermawan (44), pria yang akrab disapa Wawan dan disebut Ilham dalam keterangannya, akhirnya memberikan klarifikasi.
Ia mengakui melakukan pemukulan terhadap Ilham, tetapi mengklaim tindakan tersebut terjadi setelah dirinya terlebih dahulu mendapat serangan.
Dalam keterangannya kepada Mediaekspres.com, Dermawan membantah sejumlah bagian dari kronologi yang sebelumnya disampaikan Ilham.
Ia menyebut kejadian tersebut memicu persoalan pribadi terkait utang-utang, bukan karena polemik dugaan transaksi dalam program revitalisasi sekolah di Kabupaten Majene.
Baca Juga : Ilham Laode Mengaku Diseret dan Dipukuli Usai Bongkar Dugaan Revitalisasi Sekolah, LSM Peringatan Polisi
Dermawan menceritakan, peristiwa itu bermula pada malam Jumat, 29 Oktober 2026. Saat itu, ia mengaku berpamitan kepada istrinya untuk membeli rokok.
Ketika tiba di sebuah warung, pemilik warung bertanya-tanya keberadaan Ilham karena masih memiliki masalah pembayaran rokok yang belum terselesaikan.
Setelah keluar dari warung, Dermawan mengaku melihat Ilham berada di sekitar pintu gerbang. Ia kemudian mendekati Ilham, memarkir sepeda motornya, lalu memegang kerah baju pria tersebut.
Namun Dermawan berpendapat telah berpegang pada Ilham sebagaimana disampaikan sebelumnya kepada korban.
“Kalau saya seret itu tidak benar. Kalau saya pegang kerah bajunya dan ajak berjalan menuju toko,” jelas Dermawan saat di konfirmasi via telephone pada, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Menurut versinya, masalah tersebut berkaitan dengan uang yang disebutnya dipinjamkan Ilham menggunakan namanya melalui pihak pemberi pinjaman.
Dermawan mengaku ingin meminta penjelasan karena Ilham disebut sulit dihubungi dan diblokir komunikasi dalam perjanjian.
Selain persoalan utang, Dermawan juga mengaku ingin meminta klarifikasi mengenai sejumlah persoalan pribadi lainnya, termasuk penggunaan tempat kos dan pernyataan Ilham di media sosial.
Ia mengklaim membawa Ilham ke kawasan Lembang untuk membicarakan persoalan tersebut. Di lokasi itu, keduanya sempat terlibat perbincangan mengenai alasan Ilham menghindar dan persoalan uang yang dipersoalkan.
Namun, situasi kemudian berubah ketika Ilham berusaha melarikan diri.
kontak Dermawan mengaku mengejar Ilham hingga terjadi fisik di sekitar Jalan Joleng, Lembang Majene.
Ia menyebut keduanya sempat terjatuh dan mengklaim Ilham lebih dulu menendang serta memukulnya menggunakan sepatu.
“Memang saya akui saya pukul di situ Pak. Karena saya sudah jengkel. Saya dipukul pakai sepatunya,saya juga di tendang baru saya melakukan pemukulan,” ungkapnya.
Dermawan mengakui telah melakukan pemukulan, tetapi menyatakan tindakannya itu terjadi setelah dia merasa diserang terlebih dahulu. Ia juga mengklaim sempat menahan warga yang ingin ikut campur dalam peristiwa tersebut.
Menurut Dermawan, setelah kejadian, sejumlah warga datang untuk mengamankan Ilham. Ia kemudian menyebut seseorang bernama Akbar datang membawa uang yang mengaku terkait dengan masalah utang tersebut.
Setelah menerima uang itu, Dermawan mengaku melepaskan Ilham. Ia bahkan menyatakan sempat menawarkan untuk mengantar Ilham ke kantor polisi atau fasilitas kesehatan.
Bantah Berkaitan dengan Revitalisasi Sekolah
Dermawan secara tegas membantah dugaan bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan polemik revitalisasi sekolah yang belakangan menjadi perhatian publik di Majene.
Ia menegaskan bahwa persoalannya dengan Ilham merupakan urusan pribadi yang menurutnya berawal dari persoalan utang-piutang.
“Ini murni bukan masalah revitalisasi proyek. Ini murni masalah pribadi saya dengan beliau,” tegasnya.
Sebelumnya, Ilham Laode mengaku mengalami kekerasan fisik setelah keluar dari rumah pada malam hari. Ia menyebut dirinya datang dan dibawa oleh seseorang yang diduga Dermawan sebelum akhirnya terjadi dugaan pemukulan.
Ilham juga sempat menjalani perawatan di Puskesmas Lembang, Kabupaten Majene. Dalam keterangannya sebelumnya, ia menyebut mengalami benturan pada bagian kepala.
Perbedaan keterangan antara Ilham dan Dermawan kini menjadi bagian penting yang perlu diketahui melalui proses hukum. Klaim mengenai masalah utang-piutang maupun dugaan serangan menggunakan sepatu juga masih memerlukan pembuktian.(*)




Comment