JAKARTA – Komitmen melestarikan batik sebagai warisan budaya bangsa kembali diwujudkan melalui Diseminasi dan Pameran Batik Motif Asta yang digelar di Grha Mahbub Djunaedi, Lantai 4 Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Kegiatan yang digagas oleh Founder Batik Motif Asta, Widya Rahmawati Al-Nur, ini menjadi bagian dari rangkaian Roadshow Membatik di Lingkungan Sekolah Sejak Dini, sebuah program yang mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana Tahun 2025.
Tidak hanya menghadirkan para pegiat seni dan budaya, kegiatan ini juga melibatkan civitas akademika UNUSIA sebagai bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan pelestarian budaya.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor UNUSIA, Fatkhu Yasik, memberikan apresiasi atas dedikasi Widya Rahmawati yang dinilai mampu menghadirkan karya kreatif di luar aktivitas akademiknya.
Menurutnya, UNUSIA bangga memiliki akademisi yang tidak hanya berkiprah di lingkungan kampus, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Indonesia melalui Batik Motif Asta.
Baca : DPPKUKM Provinsi DKI Jakarta Melaunching Batik Proklamasi
Baca : Puncak Hari Batik Nasional GP Ansor Ramaikan Thamrin 10
“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung Ibu Widya Rahmawati. Beliau membuktikan bahwa seorang akademisi juga dapat menjadi pelestari budaya. Semoga gagasan dan karya-karyanya terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Fatkhu Yasik.
Dukungan juga datang dari Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif, Neli Yana, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menilai batik merupakan karya kriya yang memiliki daya saing tinggi di tingkat internasional dan terus berkembang melalui berbagai inovasi.

Menurutnya, kolaborasi batik dengan karakter populer dunia seperti Pokémon menjadi bukti bahwa batik mampu diterima oleh pasar global. Karena itu, ia optimistis Batik Motif Asta juga memiliki peluang besar untuk berkembang dan dikenal lebih luas.
“Pemerintah melalui bidang kriya akan terus mendukung lahirnya karya-karya kreatif anak bangsa. Batik adalah identitas budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi apabila terus dikembangkan dengan inovasi,” katanya.
Sementara itu, Widya Rahmawati Al-Nur berharap kegiatan diseminasi dan pameran ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mampu menjadi ruang berbagi gagasan sekaligus menginspirasi lahirnya generasi kreatif yang mencintai budaya bangsa.
Menurutnya, pengenalan batik harus dimulai sejak usia dini agar generasi muda tidak kehilangan identitas budayanya di tengah derasnya arus globalisasi.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menyebarluaskan informasi dan gagasan tentang Batik Motif Asta, sekaligus mengajak masyarakat untuk terus berkreasi. Semoga semakin banyak tangan-tangan kreatif yang mengembangkan batik sehingga karya budaya Indonesia semakin dikenal dan diterima secara luas,” tutup Widya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri kreatif mampu menghadirkan ruang yang produktif dalam menjaga keberlangsungan batik sebagai warisan budaya sekaligus mendorong lahirnya inovasi baru yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. (*)



Comment