MAMUJU — Peringatan Hari Jadi ke-22 Provinsi Sulawesi Barat diharapkan tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi menjadi momentum bagi pemerintah untuk berbenah dan menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat, khususnya para petani yang menghadapi dampak kemarau panjang.
Ketua PD TIDAR Sulawesi Barat, Awal Saini, berharap pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten serta pemerintah pusat dapat memperkuat kolaborasi dalam menghadapi kondisi tersebut.
Menurut Awal, kemarau panjang berpotensi memberikan tekanan terhadap aktivitas pertanian dan kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor tersebut.
Karena itu, diperlukan langkah konkret pemerintah agar dampaknya tidak semakin berat dirasakan petani.
“Hari jadi Sulawesi Barat yang ke-22 ini harus menjadi momentum untuk terus berbenah. Pemerintah provinsi bersama pemerintah pusat dan kabupaten harus mencari solusi menghadapi dampak kemarau panjang, sehingga kondisi ini tidak terlalu dirasakan oleh para petani kita,” ujar Awal Saini, di Mamuju, Selasa 22 September 2026.
Ia menekankan pentingnya sinergi lintas pemerintahan dengan organisasi organisasi baik itu formal maupun itu non formal dalam menangani persoalan ketersediaan air dan dampak kemarau terhadap sektor pertanian.
Menurutnya, pembangunan Sulbar yang maju dan sejahtera harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap masyarakat, termasuk petani sebagai salah satu kelompok yang memiliki peran penting dalam perekonomian daerah.
Awal berharap momentum HUT ke-22 Sulbar dapat menjadi refleksi sekaligus titik penguatan kebijakan pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.
“Sulbar maju dan sejahtera bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi bagaimana pemerintah hadir memberikan solusi ketika masyarakat menghadapi kesulitan,” katanya.
Ia berharap kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dapat menghasilkan langkah penanganan yang tepat sehingga dampak kemarau panjang dapat ditekan dan keberlangsungan aktivitas pertanian masyarakat tetap terjaga. (*)




Comment