Saat Layar Terkembang, Sendana Menjahit Silaturahmi di Atas Ombak

Majene – Di tengah riuh kehidupan yang semakin sibuk dan dunia yang terus berlari mengejar zaman, masyarakat Kecamatan Sendana justru memilih kembali memandang laut.

Bukan sekadar mencari ikan atau mengarungi ombak, tetapi merawat warisan yang telah lama menjadi denyut nadi peradaban Mandar.

Pada Minggu, 26 Juli 2026, lautan Somba, Kelurahan Mosso, akan menjadi panggung bagi puluhan perahu Sandeq dalam kegiatan latihan bersama yang dipelopori oleh seluruh ketua, pemilik perahu Sandeq dan masyarakat se-Kecamatan Sendana.

Kegiatan ini bukan perlombaan memperebutkan piala atau hadiah besar. Tetapi yang terasa justru menyentil kenyataan bahwa di saat sebagian orang sibuk membangun tembok perbedaan, para pemilik Sandeq memilih membangun persaudaraan dengan layar putih yang berkibar di atas laut.

Mereka membuktikan bahwa angin lebih suka mendorong perahu yang berlayar bersama daripada kapal yang berjalan sendiri-sendiri.

Sandeq bukan sekadar perahu bercadik tercepat di Nusantara. Ia adalah saksi bisu bagaimana masyarakat Mandar belajar menghormati alam, membaca arah angin, dan memahami bahwa kemenangan sejati bukanlah menjadi yang paling cepat, melainkan mampu kembali ke daratan dengan selamat sambil membawa persaudaraan.

Layar-layar putih akan kembali terkembang. Ombak akan menjadi irama, sementara teriakan para nahkoda menjadi nyanyian yang tak pernah ditulis dalam lembaran sejarah, tetapi hidup di hati masyarakat pesisir.

Menurut Ketua dalam pengurus kegiatan sandeq kali ini Rahmat mengatakan, dirinya merasa bangga dapat turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

“Kami ingin menjaga tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman. Sandeq bukan hanya milik para pemilik perahu, tetapi milik seluruh masyarakat Mandar. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengenalkan budaya kepada generasi muda,” ujar pria yang akrab di sapa Chelsea 99 ini.

Pemandangan yang tak kalah indah bukan hanya deretan Sandeq yang membelah lautan Sendana. Di bibir pantai, para ibu-ibu dan istri para nahkoda tampak setia menyaksikan layar-layar putih menari mengikuti hembusan angin.

Tatapan mereka seolah menyimpan doa agar setiap pelaut kembali dengan selamat, sebagaimana para leluhur dahulu menitipkan harapan kepada ombak dan angin.

Anak-anak berlarian di pesisir, para orang tua berbincang penuh kehangatan, sementara suara tawa bercampur debur ombak menghadirkan suasana yang sulit dibeli oleh gemerlap kehidupan modern.

Barangkali, di zaman ketika banyak orang lebih mengenal suara notifikasi daripada suara ombak, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa akar budaya tidak boleh tercerabut dari tanah kelahirannya.

Karena sesungguhnya, selama layar Sandeq masih mampu mengembang di Laut Sendana, selama masyarakat masih bergandengan tangan menjaga tradisi, maka warisan Mandar akan terus hidup—bukan hanya dalam cerita, tetapi juga dalam setiap hembusan angin yang mengantar perahu pulang ke dermaga. (*)

Comment