Sehari sebelumnya, eks kader PPP itu bahkan membuat gaduh rapat. Saking “gilanya”, Dahlan sempat bikin politisi senior Demokrat, Ramliati bak kesetrum listrik bertegangan tinggi. Srikandi partai Mercy itu sampai mengeluarkan pernyataan bernada tinggi akibat ulah Dahlan.
Musababnya, Dahlan berani membatalkan agenda penting DPRD – pembentukan Pansus anggaran Covid-19 Mamuju. Ia menuntut pembentukan Pansus harus lahir dari hasil Bamus. Dasarnya, Dahlan berpedoman pada aturan UU MD3.

Bukan hanya Demokrat, pasangan mesra NasDem untuk Pilkada Mamuju, Hanura juga menolak tuntutan dari Dahlan. Suara Hanura lewat Mervie Parasan ngotot bahwa musyawarah mufakat merupakan wadah pengambilan keputusan tertinggi di DPRD.
Hal itu berarti — tanpa Bamus — Pansus sudah bisa terbentuk lewat kesepakatan bersama. Mervie bahkan terkesan menggurui Dahlan.
“Di DPRD itu, hasil musyawarah dan mufakat merupakan keputusan tertinggi,” jelas politisi Hanura.
Bagai batu karang yang tetap kokoh meski diterjang ombak, Dahlan tidak bergeming dengan respon tak bersahabat Ramliati dan Mervie.
Alhasil, Dahlan berhasil mempengaruhi sejumlah besar anggota DPRD untuk menyelenggarakan rapat Bamus.
***
Kembali ke rapat Bamus kemarin. Mahyuddin, juru bicara Fraksi Demokrat menegaskan bahwa setiap fraksi mempunyai hak sama. Tidak ada fraksi spesial di lembaga DPRD.
“Jumlah hak-hak setiap fraksi sama, secara legal standing haknya sama. Tidak ada yang bisa dispesialkan,” terang Ketua Komisi II itu.
Komentar formal dari Mahyuddin ini hanya dijawab polos oleh Dahlan. “Saya paham saudaraku Mahyuddin. Tapi saya minta kebijakan dan mufakat saudara-saudara, Pak Dahlan ini diikutkan di Pansus.”




Comment