Turianto menyarankan kepada pemerintah untuk memperhatikan usaha lainnya, seperti perikanan dan pertanian.
Menurut Turianto, banyak pemuda yang berinisiatif untuk budi daya ikan. Selain itu, masih ada kelompok pemuda yang memanfaatkan sedikit lahan kosong yang tersisa untuk bercocok tanam sayuran di tengah hamparan lahan sawit.
“Pemerintah harus melek dalam melihat situasi hari ini. Dinas Pertanian, Dinas Perikananan dan Kelautan, serta Dinas Koperindag, harus bertindak,” pintanya.
“Ini mesti menjadi perhatian khusus pemerintah di Mateng hari ini, jika tidak ingin kembali merasakan pahitnya krisis ekonomi1997,” tegas Turianto.
Salah satu masyarakat, Heri mengaku ikut merasakan dampak jatuhnya harga sawit. Pasalnya, usaha bengkel yang digelutinya relatif sepi.
“Jika harga sawit jatuh, bengkel menjadi sepi dan ini sudah berulang kali, saat 2018 lalu pada saat harga sawit jatuh sampai Rp 700/kilo, bisa dikatakan tidak ada lagi pasien motor yang siap untuk di-servis,” keluhnya.
Hal sama diungkapkan Halima, pedagang bahan campuran di Mateng. Pengunjung di tokonya berkurang semenjak turunnya harga sawit.
Wartawan juga sempat mewawancarai salah seorang petani sawit asal Desa Waeputeh yang mengeluhkan produktivitas sawit turun, akibat usia tanaman sudah menua.
“Sawit saya jauh sangat menurun hasilnya karena usianya yang memang sudah menua,” ucap petani yang enggan identitasnya dipublis itu.
Reporter: Jeky
Editor : Mediaekspres.id
Quotes of the day “Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”
Soe Hok Gie




Comment