Muharram di Tengah Efisiensi dan Gejolak Harga

Di malam yang cerah ini, kuambil sebatang pena, menulis beberapa bait tentang kondisi dan situasi bangsa. Di saat sebagian masyarakat tengah berjuang menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, di sudut-sudut kota adik-adik mahasiswa kembali turun ke jalan menyuarakan aspirasi. Mereka membawa harapan, menyampaikan kegelisahan, sekaligus mengingatkan bahwa suara rakyat tidak boleh diabaikan.

Muharram kembali hadir menyapa kita. Bulan yang menjadi penanda pergantian tahun Hijriyah ini bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi momentum untuk merenung, mengevaluasi, dan memperbaiki langkah. Hijrah yang diajarkan Rasulullah SAW bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bermartabat.

 

Baca : Kenapa Quran memakai pilihan kata jalan lurus

 

Namun Muharram tahun ini hadir di tengah berbagai tantangan. Kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah menjadi ikhtiar untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan pembangunan. Di sisi lain, masyarakat merasakan dampak dari gejolak harga yang masih membayangi kehidupan sehari-hari. Harga bahan pokok yang naik turun, biaya pendidikan yang terus menjadi perhatian, serta kebutuhan hidup yang semakin kompleks menjadi beban yang dirasakan oleh banyak keluarga.

Dalam situasi seperti ini, kesabaran dan kebijaksanaan menjadi dua hal yang sangat dibutuhkan. Pemerintah dituntut untuk tetap hadir memberikan solusi yang nyata, sementara masyarakat diharapkan tetap menjaga optimisme dan semangat gotong royong. Sebab sejarah bangsa ini telah membuktikan bahwa setiap tantangan dapat dilalui ketika pemerintah dan rakyat berjalan dalam satu tujuan yang sama.

Suara mahasiswa yang hari ini terdengar melalui demonstrasi juga patut dipandang sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Kritik yang disampaikan dengan santun dan bertanggung jawab adalah energi positif untuk memperbaiki kebijakan. Sebaliknya, pemerintah perlu membuka ruang dialog yang lebih luas agar setiap aspirasi dapat didengar dan dipahami dengan baik.

Muharram mengajarkan kita tentang keberanian menghadapi perubahan. Seperti hijrah Rasulullah yang penuh tantangan namun melahirkan peradaban besar, bangsa ini pun membutuhkan keberanian untuk menghadapi berbagai persoalan dengan pikiran yang jernih dan hati yang lapang. Bukan saling menyalahkan, melainkan saling menguatkan. Bukan memperbesar perbedaan, melainkan memperkokoh persatuan.

Di tahun baru Hijriyah 1448 H ini, mari kita jadikan semangat hijrah sebagai inspirasi untuk memperbaiki diri, memperkuat kepedulian sosial, dan menumbuhkan harapan di tengah berbagai kesulitan. Sebab sesungguhnya, setiap ujian selalu membawa pelajaran, dan setiap kesulitan selalu membuka jalan menuju kemudahan.

Muharram adalah tentang harapan. Harapan agar harga-harga kembali stabil. Harapan agar kebijakan yang diambil semakin berpihak kepada rakyat. Harapan agar generasi muda tetap menjadi penjaga nurani bangsa. Dan harapan agar Indonesia terus melangkah maju dengan keadilan, kesejahteraan, serta keberkahan bagi seluruh rakyatnya.

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448 H. Semoga langkah kita ke depan menjadi lebih baik dari hari kemarin, dan semoga bangsa ini senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.

Oleh : H. Makdoem Ibrahim

Comment