AK dan ke-lima temannya itu, tentu tergolong, salah satu istilah Protokol kesehatan untuk memantau kondisi. Yaitu, OTG (Orang Tanpa Gejala), ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Status OTG sebagai orang yang tidak bergejala dan memiliki resiko tertular dari orang positif covid. Seperti dari wilayah zona merah. ODP berstatus belum menunjukkan gejala sakit, namun telah memiliki riwayat kontak dengan orang yang diduga positif covid. Sedangan PDP telah memiliki riwayat gejala, seperti demam, batuk, sesak napas, dan sakit tenggorokan. Namun lebih jelas dan detailnya baca: Pedoman Pengendalian Pencegahan, Covid-19 Kementrian Kesehatan RI termasuk aturan Isolasi Mandiri, pada surat edaran Kemenkes tahun 2020, protokol isolasi diri sendiri dalam penanganan covid-19.
Mereka bertiga hari ke 14 berada di gedung karantina itu, baru dilakukan tes swab oleh dokter. Itupun santri tersebut, selalu meminta kepada dokter kejelasan dirinya untuk di swab.
Lalu bagai mana dengan kelima santri lain itu, tim mediaekspres.id mencoba mendalami peristiwa yang menghebohkan Mamuju dengan tuduhan kaburnya dua orang pasien saat menjalani Isolasi di Gedung Karantina RSUD Sulbar.

Enam Santri Jalani Karantina Mandiri di Pondok Raihan
Empat santri dan dua santri wati jalani karantina mandiri di Pondok Raihan, Jl. Abd. Syakur Karema Mamuju. Pondok itu dua lantai, memiliki 10 kamar, lantai satu lima kamar, dan lantai dua lima kamar. Lima santri berada di lantai dua, masing-masing satu orang satu kamar. Sedangkan santri asal Jakarta itu, berada di lantai bawah. Keenam santri tersebut, bernisial, MT, IW, PR, DR, MY dan satu lagi santri asal Jakarta. Santri asal Jakarta ini mengalami demam. Menurut informasi yang diperoleh ia adalah anak dari pemilik pondok Raihan itu. Mereka menjalani karantina disana selama 18 hari.
Selama proses karantina di pondok Raihan, warga sekitar tidak merasa terganggu. Malahan ia menyaksikan aktifitas para santri. ketika mentari memancarkan sinarnya mereka berolahraga senam. Selain itu, petugas covid-19 sering memantau, memeriksa kesehatan mereka.
“Tidak bersamaanki semua datang, hari pertama dua orang, besoknya lagi dua orang, besoknya lagi dua orang. Enam orang semua empat laki-laki dua perempuan. Mereka langsung karantina diri disana. Jadi kami juga ini tetangganya tidak merasa terganggu, karena kami lihat mereka tidak ada tanda-tanda sakit mau demam tohh. Waktu mereka diperiksa oleh kesehatan, pertama itu hasilnya tidak menandakan positif-positif sekali!. Nanti tes yang kedua kali 14 hari disana saya dengar baru dinyatakan postif dua orang. Jadi begitu mereka dinyatakan positif itu dua orang mereka langsung kerumah sakit. Mereka sendiri itu kesana saya liat tidak di jemput oleh petugas. Naik motor itu berdua ke rumah sakit. Orang tuanya ikuti dari belakang naik mobil. Bagus tauwa karena inisiatif sendiri toh kerumah sakit,” ujar ibu paru baya ini yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, ibunda MY, Hj. Nurmiati mengatakan saat 18 hari anaknya dikarantina di pondok Raihan, berinisiatif menjemput anaknya dan membawah kerumahnya untuk karantina mandiri. Ia mengosongkan lantai tiga rumahnya untuk ditempati anaknya dengan niat mengantisipasi menularnya covid pada keluarga mereka ketika MY dinyatakan positif oleh tim gugus covid.
“Waktu masih di pondok itu, datangmi orang kabuputen periksa anakku. Nabilangmi itu orang kabupaten positif tampa gejala. Jadi saya bilangimi, inimi ini bentuknya corona kita tidak tau. ‘Ingga’ta simata sipaka gengge’. Kenapa ada itu namanya penyakit positif tanpa gejala bahasa apa itu. Selang satu hari datangmi naminta harus dibawa kerumah sakit anakta,” cerita Hj. Nurmiati.




Comment