Orang tua santri AK mempertanyakan, pihak medis tidak berfikir rasional dengan realitas yang ada,bahwa hasil tes anaknya yang di diagnoasa positif oleh pihak tim medis RSUD itu tidak sesuai dengan ralita.
“Itu anak saya sudah lebih satu bulan saya sama-sama di sini sebelum ke rumah sakit. Dan saat ia di rapid test di Puskesmas Tampa Padang, hasilnya negatif, itu artinya ini tidak rasional. Tiba-tiba muncul positif dengan hasil tes yang sama, inikan rancuh ini. Persoalan dibilang medis disana ada kekeliruan. Oh itu saya tidak mengerti, yang jelas kamu orang yang buat. Apakah hasilnya positif yang keliru, atau hasilnya negatif yang keliru dan itu harus ada dalam bentuk pertanggungjawabannya. Inikan sudah lebih satu bulan belum ada gejala ini. Tanda tanya besar kalau positif hasilnya,” kata Ayah AK, Gusti Salupati saat dihubungi.
Lanjut ia mempertanyakan hasil tes swab anaknya positif atau negatif untuk diperlihatkan kepadanya. Ia mengaku setiap dirinya meminta hasilnya pihak medis di RSUD enggan memperlihatkan kepadanya.
“Mulai dari tes awal itu tidak memperlihatkan hasilnya. Hasil ronsen katanya juga itu tidak ada memperlihatkan hasilnya. Dan itu cuman bahasa saja terus yang dikasi keluar bahwa begini begitu,” ujarnya.
Sementara itu Muhammad Nur, Ayah dari MY mengatakan bahwa, menurut istrinya bahwa di Kabupaten Polman dan Mamuju Tengah itu bisa karantina mandiri. Dan menurutnya aturan itu ada dan dibolehkan untuk menjalani karantina mandiri, bagi pasien yang OTG. Namun protap yang dijalankan kabupaten Mamuju itu tidak bisa.
“Saya pada posisi itu tidak ada keinginan naik. Namun ibu menginginkan karantina dirumah. Seperti itu juga teman-teman orang tuanya yang lain. Saya juga berangkat kesana ikut menemani orang tua santri lain. Apa bisa anak diambil dan dikarantina. Tiba diatas berjalan ini diskusi, tidak ada titik temu atau bagai mana karena saya terlambat. Saya liatlah mereka teman anak saya pergi, lalu anak saya bertanya, nelpon bagai mana saya pak?. Saya bilang kepada anak saya jangan. Kenapa anak saya turun dibawa karena ini timbul persoalan. Bahwa terjadi keganjalan-keganjalan diatas itu. Yang protap yang dijalankan diatas itu saya tidak peduli. Yang saya inginkan bagaimana saya dapat bisa sembuh. Dan saya bawa pulang,” ujarnya.
Lanjut Muhammad Nur, kejadian terjadi itu karena pihak dokter mengatakan kepada pasien bahwa mereka telah negatif. Dua hari kemudian datang hasilnya katanya dokter bahwa itu, tidak negatif dia positif. Muahmmad Nur pun kembali menanyakan kepada anaknya bahwa dokter mengatakan positif.
“Makanya saya mengusulkan pertemukan saya dengan dokter yang mengambil swab waktu itu. Terjadilah pertemuan dibawa pada hari itu. Dokter tersebut tak mengakui dan saya juga tidak langsung membenarkan perkataan anak saya begitupun sebaliknya, makanya ini saya datang kesini untuk mencocokkan. Alasanmi dokter nabilang tidak adami dokter temannyaji,”
“Ada ketidakjelasan terjadi di RSUD itu. Seorang dokter hari itu tidak berada di tempat. Apa yang saya dan mereka liat adalah situasi yang memaksa mereka harus mengatakannya,”
“Ada yang ganjil menurut saya. Mereka datang tanggal 18 April, disediakan karantina bukan isolasi mandiri. Persoalannya kemudian diantara anak-anak yang dikarantina itu, ada yang sudah melewati batas 14 hari disana. Sudah pulang mereka kerumahnya petugas kesehatan mengadakan rapid test. Itulah saya kaget. Tiba tiba diadakanlah swab diatas lalu hasilnya positif,” jelasnya
”Rumah sakit ini melakukan kesalahan besar, karena anak-anak sudah pulang kerumahnya baru dilakukan rapid test. Ini anak hasilnya reaktif dan dilanjutkan dengan swab lalau mereka dinyatakan positif maka terjadi pembludakan karena mereka sudah berkontak dengan masyarakat ini. Rubuan orang bekerja di pasar. Semua orang-orang ini berkontak dengan keluarganya,”
Kinerja petugas medis covid-19 memang harus di evaluasi ada apa yang terjadi, karena kalau ini benar maka corona di Mamuju akan bertambah banyak. Muhammad Nur tidak pernah berkontak dengan anaknya. Karena ia sadar bahwa rapid test anaknya reaktif.
“jadi walaupun dengan berat hati harus anak saya menjalani isolasi di RSUD. Dan hasilnya juga positif,”
Memang dia pada saat itu Untuk meminta anaknya agar dapat di isolasi mandiri.
“Selain itu dengan niat untuk mempertanyakan anak saya hasil swabnya positif atau negatif. Selain itu meminta kejelasan dokter, terhadap anak saya. Sudah lama dia dan kedua temannya itu di isolalasi. Kapan keluar?. Saat ada informasi bahwa anak saya mau keluar bersama teman-temannya karena tidak betah, saya telponlah anak saya untuk tetap disitu. Jangan keluar. Hingga hari ini saya tidak pernah bertemu dengan anak saya. Sudah 42 Hari sejak ia tiba di Mamuju bersama teman-temannya,” ujar Muhammad Nur ayah DR kepada Mediaekpres.id Minggu, 31 Mei 2020.





Comment